Biarkan Rakyat Papua menjadi bagian dari Indonesia juga
Friday, 11 November 2011
Selasa kemarin adalah hari ujian
Lending Decisions saya. Walau nama mata kuliahnya Lending Decisions, tapi kami
tidak hanya diajarkan tentang bagaimana cara meminjamkan uang, tp kami juga
belajar tentang ethical issues, dll. Termasuk didalamnya kasus krisis di
Yunani.
Nah lho, apa hubungannya Yunani
sama Papua? Jelas ada!! Rakyat di kedua tempat ini sama-sama memberontak kepada
pemerintahannya. Menurut pendapat dosen saya, rakyat di Yunani memberontak
karena pemerintahnya tidak dapat
menyediakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Not enough public facilities, no
job security, big corruptions, etc. intinya, rakyat merasa kalau pemerintah tidak
dapat mensejahterakan mereka; dan ini pula yang terjadi di Papua.
Tadi malam saya menonton
Indonesia Lawyers Club melalui internet, yang saat itu topiknya, “Gunjang
Ganjing Bumi Papua”. Tidak sembarangan lho narasumber2nya. Pak JK pun turut
hadir untuk memberikan pendapatnya tentang masalah di Papua saat ini. PT.
Freeport Indonesia juga turut hadir, untuk menanggapi masalah karyawan mereka
yang saat ini sedang mogok dan menuntut kenaikan gaji.
Papua memiliki kekayaan alam yang
sangat berlimpah. Dengan tambang emasnya yang menjadi salah satu tambag terbaik
di dunia, dengan hutannya yang masih hijau, dengan Gunung Jaya nya, serta
wisata alam Raja Ampatnya, dll.
Bagaimana rasanya, jika anda
kaya, tapi tidak dapat menikmati kekayaan anda? Tentu tidaklah enak rasanya. Begitupun
rakyat Papua. Dengan tambang emasnya yang saat ini di explorasi oleh PT.
Freeport (Indonesia) yang berpusat di Amerika, rakyat Papua hanya menjadi buruh
di daerahnya sendiri. Dengan gaji yang sangat rendah jika dibandingkan dengan
tenaga kerja luar negeri di papua, tentulah mereka merasa di anak tirikan. Angka
inflasi di Mimika (Lokasi tempat PT. Freeport Indonesia) berada pun tidak
berbanding lurus dengan kenaikan gaji pegawainya. Dengan angka inflasi yang
mencapai 10%, tentulah kenaikan gaji yang hanya 3% akan menjadi sangat berat
bagi pekerja disana. Harga kebutuhan pokok yang selangit pun menambah panjang
daftar permasalahan rakyat papua, terutama yang berada di Mimika.
Selama ini, saya tidak sadar
kalau Indonesia itu ternyata memiliki 2 speed economy seperti Australia. Tetapi
masalahnya, jikalau daerah sekitar tempat yang di explorasi oleh BHP Billiton
maju seiring dengan angka inflasinya, justru di papua, daerah tersebut mundur
seiring dengan tingginya angka inflasi di daerah tersebut. Kenapa saya bilang
begitu? Karena fasilitas2 publik disana masilah sangat minim. Mungkin memang
saya agak sok tau, tapi gambaran seperti itulah yang saya dapatkan saat saya
membaca dan/atau menonton berita tentang Papua.
Di acara Indonesia Lawyers Club,
ternyata para narasumber pun mempunyai pendapat yang sama dengan dosen saya,
bahkan mereka mengatakan bahwa rakyat
papua memberontak karena pemerintah belum dapat memberikan rasa keadilan dan
kesejahteraan bagi mereka. Dan saya
sangat setuju dengan ini. Jikalau rakyat
merasa bahwa pemerintah adil, tentulah mereka tidak akan memberontak. Tingkat kemiskinan
yang tinggi di papua, serta minimnya fasilitas publik yang tidak berbanding
lurus dengan alokasi dana yang diberikan oleh pemerintah pusat tentu
menunjukkan tingginya angka korupsi di Papua. Belum lagi rumor yang mengatakan
bahwa para pejabat daerah Papua, lebih sering berada di Jakarta daripada di
Papua, yang hanya di jawab ketawa oleh Pak Gubernurnya saat ini. Kalau dihitung
alokasi dana per kepala, memang alokasi Rp 10 juta per kepala untuk Papua
memang jauh lebih tinggi daripada alokasi dana untuk daerah Jawa yang hanya
mendapat jatah Rp 1.5 juta per kepala. Tapi tentulah ini harus diliat dari
banyak aspek:
(1) aspek ekonomi. Kontribusi daerah yang
diberikan ke pemerintah pusat sangat lah tinggi. Kontribusi dari PT. Freeport
dan perusahaan2 di Papua lainnya tentulah sangat tinggi, apalagi seiring dengan
tingginya harga emas dan mineral saat ini. Tentulah wajar bagi Papua untuk
mendapatkan jatah yang lebih tinggi dibandingkan daerah2 lainnya;
(2) Alam Papua yang masih sangat
alami tentu membutuhkan biaya pengembangan infrasturktur yang sangat mahal. Belum
lagi lokasi Papua yang jauh akan menyebabkan tingginya harga bahan2 bangunan
disana. Kata Gubernurnya, untuk membangun jalan sepanjang 6000km++ dibutuhkan
dana Rp 200 M. dengan alokasi dana Rp 1 M per tahun, butuh 200 tahun agar jalan
tersebut dapat selesai. Ini baru jalannya. Belum jembatannya, belum fasilitas publik
lainnya, belum lagi korupsinya;
(3) Papua masuk dalam daerah yang
mendapatkan OTSUS (Otonomi Khusus) selain Aceh, jadi jelas Papua mendapatkan
jatah lebih banyak daripada daerah-daerah lain.
Kenapa rakyat Papua
ingin Merdeka? Kenapa sampai ada OPM (Organisasi Papua merdeka)?
Salah satu narasumber di
Indonesia Lawyers Club menyebutkan tentang pentingnya National Character Building untuk rakyat Papua. Kebanyakan rakyat Papua kurang
mempunyai rasa Nasionalisme, mereka kurang mempunyai rasa bahwa mereka adalah
bagian dari rakyat Indonesia. Wajar memang, dengan pemerintah yang hanya
memfokuskan pembangunan di daerah jawa, tentu rakyat Papua merasa dianak
tirikan. Lokasinya yang memang jauh dari ibukota mungkin menjadi salah satu sebab
mengapa pemerintah kurang memberi perhatian khusus. Selain itu, kurangnya
pejabat negara (Contoh: Menteri) yang berasal dari Papua mungkin menyebabkan
tidak ratanya pembagian alokasi proyek-proyek pembangunan Nasional. Seperti yang
sudah saya tulis sebelumnya, rakyat Papua
butuh keadilan dan kesejahteraan. Jika rakyat Papua merasa bahwa pemerintah
telah berlaku adil terhadap mereka, tentu tidak akan ada lagi pertumpahan darah
di Papua. Terlebih lagi jika mereka semua sudah hidup sejahtera, jauh diatas
angka batas kemiskinan. Tahun 2000, Papua termasuk salah satu daerah dengan
penduduk termiskin terbanyak di Indonesia, dengan angka yang mendekati 50%. Lebih
dari 40% rakyat Papua tergolong miskin!! Sungguh ironis! Punya kekayaan alam
yang berlimpah, tetapi miskin. Justru negara lain lah yang mengambil untung
atas kekayaan mereka.
Pemerintah pun sepertinya tidak dapat
berbuat banyak; terlihat dari angka pembagian keuntungan yang hanya 1% untuk
pemerintah. Harusnya pemerintah dapat bernegosiasi untuk mendapatkan jatah yang
lebih tinggi dari sekedar 1%. Tapi sudahlah, beberapa tahun yang lalu, kontrak
1% ini baru saja diperpanjang untuk 40 tahun kedepan. Nasi telah menjadi bubur,
sekarang kita membutuhkan pemerintah dan pejabat2 yang pintar memutar otak
untuk menggunakan jatah 1% ini untuk memajukan Papua dengan semaksimal mungkin.
Para pejabat seharusnya sadar, bahwa rakyat Papua membutuhkan mereka. Jangan
lah mengambil uang yang bukan hak mereka, jangan lah mengkorupsi uang yang
seharusnya dialokasikan untuk rakyat Papua. Para pejabat Papua yang saat ini
lebih sering di Jakarta sebaiknya lebih banyak meluangkan waktunya di Papua.
Rakyatmu membutuhkanmu bapak2 dan ibu2 pejabat yang terhormat.
*dari berbagai sumber dan pendapat pribadi
Ima says "Have a nice day... =)"